PLERED, KABUPATEN CIREBON – Pemerintah Kabupaten Cirebon bergerak cepat dalam mendukung akselerasi pembangunan dan keterpaduan wilayah perbatasan. Langkah ini diwujudkan melalui fasilitasi agenda Focus Group Discussion (FGD) sekaligus Kunjungan Lapangan bertajuk "Penguatan Sinergi Desa-Kota melalui Optimalisasi Rantai Pasok Agrikultur dan Pengembangan Pariwisata di Koridor Cirebon – Kuningan", Jumat (12/6/2026).

Pertemuan dan peninjauan strategis ini dipusatkan di Sentra Batik EB, Jalan Panembahan Ratu, Desa Panembahan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. Agenda ini digelar sebagai tindak lanjut resmi atas surat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI dengan Nomor T-10938/Dt.02.04/PP.07/06/2026 tertanggal 03 Juni 2026.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Sinergi Regional

FGD dan kunjungan lapangan ini melibatkan jajaran tim teknis pusat dari Bappenas bersinergi dengan instansi daerah guna memetakan potensi integrasi ekonomi antarwilayah. Hadir memenuhi undangan sebagai representasi dari Pemerintah Kabupaten Cirebon:

  • Perwakilan Disbudpar: Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon diwakilkan oleh Kepala Bidang Promosi dan Ekonomi Kreatif Pariwisata, Bapak Achmad Bayu Suradilaga, S.Par.
  • Perwakilan Bapperida: Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan, Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Cirebon, Ibu Saniri, S.Si., Apt., M.H., didampingi oleh Ibu Hj. Eva Rahmifa, M.A.P. selaku Perencana Ahli Madya.

Optimalisasi Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Koridor Batas

Pemilihan lokasi di Desa Wisata Panembahan (Batik EB) menjadi representasi nyata dari keterkaitan ekosistem hilir pariwisata dan ekonomi kreatif. Dalam konseptualisasi koridor Cirebon–Kuningan, interaksi desa-kota dirancang agar berjalan saling menguntungkan. Kabupaten Kuningan dengan kekuatan hulu agrikultur dan wisata alamnya akan dikoneksikan secara kuat dengan Kabupaten Cirebon yang unggul dari sektor pariwisata sejarah, kuliner, serta industri kreatif/kerajinan seperti batik.

Dalam diskusi tersebut, Kepala Bidang Promosi dan Ekraf Disbudpar, Achmad Bayu Suradilaga, S.Par., menyampaikan bahwa penguatan koridor ini menjadi momentum emas untuk menaikkan kelas para pelaku ekonomi kreatif lokal.

"Melalui optimalisasi konektivitas koridor Cirebon-Kuningan ini, kita berharap pergerakan wisatawan tidak lagi terfragmentasi. Wisatawan yang menikmati keindahan alam di Kuningan dapat langsung terhubung untuk membelanjakan produk ekonomi kreatif dan kulinernya di Cirebon, begitu pula sebaliknya. Sinergi rantai pasok ini yang perlu kita kunci di dalam dokumen perencanaan pusat," paparnya.

Di sisi lain, Kabid Ekonomi dan SDA Bapperida Kabupaten Cirebon, Ibu Saniri, S.Si., Apt., M.H., bersama Ibu Hj. Eva Rahmifa, M.A.P., memberikan masukan berbasis data makro ruang. Pihak Bapperida menekankan aspek keberlanjutan ekonomi agar program intervensi dari Bappenas nantinya benar-benar mampu menurunkan ketimpangan wilayah perkotaan-pedesaan dan menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan perbatasan.

Kunjungan Lapangan Guna Validasi Data

Setelah merampungkan sesi pemaparan dan diskusi kelompok terarah, tim Bappenas bersama perwakilan Disbudpar dan Bapperida melakukan peninjauan langsung (kunjungan lapangan) ke area produksi dan galeri kerajinan. Langkah ini dilakukan guna memvalidasi data kesiapan infrastruktur penunjang pariwisata dan rantai pasok lokal secara riil di lapangan.

Melalui sinergi perencanaan terpadu antara Bappenas, Disbudpar, dan Bapperida ini, draf rekomendasi kebijakan penguatan koridor Cirebon–Kuningan diharapkan dapat segera diimplementasikan. Hasil akhir dari program ini ditargetkan mampu menciptakan ekosistem pariwisata terintegrasi serta memperlancar arus distribusi agrikultur yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat di kedua daerah. (Humas Disbudpar)