SUMBER, KABUPATEN CIREBON – Kelanjutan rangkaian agenda penguatan literasi sejarah lokal di Kabupaten Cirebon memasuki babak mendalam. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon sukses menggelar Seminar Hasil Kajian Koleksi Museum tentang Topeng Cirebon.

Seminar ini menjadi wadah ilmiah sekaligus kultural untuk membedah secara filosofis, historis, dan praktis salah satu warisan mahakarya tanah wali, yakni seni institusi Topeng Cirebon yang tersimpan sebagai koleksi berharga daerah.

Acara prestisius ini dihadiri langsung oleh Sekretaris Disbudpar Kabupaten Cirebon, Ibu Juju Juhaeriah, S.A.P., M.A.P., yang hadir mewakili pimpinan dinas, dengan didampingi secara teknis oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Bapak Raden Moh. Al Bana, S.Pd., M.Pd.

Diskusi Interaktif Dipandu Akademisi dan Praktisi Media

Guna menjembatani draf pemikiran para pakar agar mengalir secara dinamis dan interaktif, seminar ini dipandu oleh moderator yang memiliki rekam jejak mumpuni, yaitu Ibu Dr. Dea Angkasa Putri Supriadi, S.IP., M.A.P.

Beliau merupakan sosok multitalenta yang berlatar belakang sebagai Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), seorang Peneliti, sekaligus menjabat sebagai Direktur Media Fajar Cirebon. Ketajaman analisisnya berhasil menghidupkan suasana diskusi antara narasumber dan peserta.

Sinergi Tiga Pilar Narasumber Berkompetensi Tinggi

Kajian koleksi kali ini terasa sangat istimewa karena Disbudpar Kabupaten Cirebon berhasil menyatukan tiga pilar pakar yang menguasai ranah akademis, kurasi struktural, hingga praktisi maestro murni sebagai narasumber utama:

  1. Bapak Toto Amsar Suanda, S.Sn., M.Sn. Selaku Dosen dan Guru Besar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Beliau membedah Topeng Cirebon dari sudut pandang akademis, metodologi seni pertunjukan, serta relevansi pelestariannya dalam konstelasi seni nasional.
  2. Bapak Dr. H. Casta, S.Pd., M.Pd. Selaku Budayawan Cirebon sekaligus Kurator Resmi Museum Pangeran Cakrabuana Kabupaten Cirebon. Ia mengupas tuntas dari sisi nilai historis babad, semiotika/makna simbolis dari setiap karakter kedok (topeng), serta statusnya sebagai koleksi museum yang wajib dipahami publik.
  3. Ibu Baedah, A.Md. Selaku Maestro Tari Topeng Cirebon Gaya Gegesik sekaligus Pemilik Sanggar Tari Topeng Gegesik. Kehadiran beliau memberikan ruh praktis dalam seminar ini melalui pemaparan estetika gerak gaya pakem Gegesik serta mentransfer pengalaman empirisnya dalam menjaga regenerasi penari tradisional.

Perkuat Kompetensi Guru dan Stimulus Riset Mahasiswa

Sama seperti tahap pembukaan sebelumnya, jalannya seminar interaktif ini kembali melibatkan barisan peserta yang bersentuhan langsung dengan dunia edukasi dan generasi muda kebudayaan. Ruang seminar dipenuhi oleh antusiasme para Guru Seni Budaya, Guru Bahasa Daerah (Bahasa Cirebon), serta jajaran Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC).

Sekretaris Disbudpar, Ibu Juju Juhaeriah, S.A.P., M.A.P., dalam arahannya menyampaikan bahwa Topeng Cirebon bukan sekadar tontonan estetik, melainkan sebuah tuntunan hidup yang kaya akan ajaran spiritual dan sosial.

"Hasil kajian yang dipaparkan oleh para narasumber hebat kita hari ini—mulai dari Guru Besar ISBI, Budayawan Kurator kita, hingga Maestro dari Gegesik—harus menjadi suplemen ilmu yang berharga bagi para guru untuk diajarkan kembali kepada anak didik di sekolah. Bagi draf riset adik-adik mahasiswa UMC, ini adalah ladang riset yang sangat luas," tutur Juju Juhaeriah.

Menjaga Autentisitas di Tengah Modernisasi

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan, Bapak Raden Moh. Al Bana, S.Pd., M.Pd., menambahkan bahwa Seminar Hasil Kajian Koleksi ini merupakan langkah konkret untuk mengunci autentisitas dan pakem asli dari Topeng Cirebon agar tidak bias oleh perkembangan zaman.

"Melalui catatan kurasi dari Pak Dr. Casta dan pengalaman praktis Ibu Baedah, kita mendokumentasikan draf ilmiah yang kuat mengenai koleksi topeng di Museum Pangeran Cakrabuana. Sinergi ini memastikan bahwa Kabupaten Cirebon tidak akan kehilangan akar budayanya dan museum kita terus berfungsi aktif sebagai pusat riset pengetahuan," pungkas Raden Moh. Al Bana. (Humas Disbudpar Kabupaten Cirebon)