Lestarikan Tradisi Turun-Temurun, Disbudpar Kabupaten Cirebon Hadiri Ritual Buka dan Tutup Sirap Makam Buyut Trusmi

 

CIREBON, DISBUDPAR – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon kembali menunjukkan komitmennya dalam mengawal dan melestarikan warisan budaya takbenda di wilayah Kabupaten Cirebon. Hal ini terlihat saat Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon, Bapak Fajar Sutrisno, S.Si., menghadiri langsung prosesi ritual adat "Buka dan Tutup Sirap" di Kompleks Makam Keramat Buyut Trusmi, Kecamatan Plered.

Dalam kunjungan kerja sekaligus peninjauan tersebut, Kepala Dinas didampingi oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Bapak R. Moh. Al Banad, S.Pd., M.Pd., beserta jajaran staf Disbudpar. Kehadiran mereka disambut hangat oleh para tokoh adat, kiai, dan masyarakat pelestari situs Buyut Trusmi.

Tradisi Buka dan Tutup Sirap merupakan ritual penggantian atap sirap (atap kayu) pada bangunan utama makam Ki Gede Buyut Trusmi yang dilakukan secara berkala. Uniknya, seluruh proses pembongkaran hingga pemasangan kembali atap sirap ini dilakukan dengan semangat gotong royong (kerja bakti) oleh warga setempat dan para peziarah yang datang dari berbagai daerah, tanpa menggunakan paku besi modern melainkan teknik pasak tradisional.

Dalam sela-sela kegiatannya, Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno, S.Si., menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap masyarakat Trusmi yang masih teguh memegang teguh adat istiadat leluhur.

"Ritual Buka dan Tutup Sirap ini bukan sekadar perbaikan fisik bangunan, melainkan sebuah simbol kekuatan gotong royong, kebersamaan, dan spiritualitas masyarakat Cirebon yang masih sangat kental. Nilai-nilai luhur seperti inilah yang harus kita jaga dan wariskan kepada generasi muda," ujar Fajar Sutrisno saat berbincang santai bersama tokoh adat di serambi situs.

Ia juga menambahkan bahwa Disbudpar akan terus mendukung penguatan regulasi dan promosi kebudayaan agar tradisi-tradisi berskala besar seperti ini dapat dipertahankan sebagai daya tarik wisata religi dan budaya, sekaligus identitas asli daerah.

Senada dengan Kepala Dinas, Kepala Bidang Kebudayaan, R. Moh. Al Banad, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa Kompleks Makam Buyut Trusmi merupakan salah satu cagar budaya penting di Cirebon. "Prosesi ini memiliki nilai historis dan antropologis yang sangat tinggi. Keterlibatan aktif kaum perempuan dalam menyiapkan konsumsi adat (tumpeng/berkat) dan kaum pria yang bahu-membahu di atas atap menunjukkan bahwa struktur sosial budaya kita sangat harmonis," tuturnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan syukuran (makan bersama) sebagai wujud rasa syukur atas kelancaran prosesi penggantian sirap. Tampak puluhan bakul nasi tumpeng adat yang telah disiapkan secara gotong royong oleh ibu-ibu warga setempat berjajar rapi untuk dinikmati bersama seluruh masyarakat dan tamu undangan yang hadir.

Dengan terlaksananya ritual ini, diharapkan aura spiritual dan kelestarian arsitektur tradisional Makam Buyut Trusmi tetap terjaga dengan baik, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya merawat sejarah di tengah arus modernisasi. (Bidang Kebudayaan/Disbudpar)